Galeri Foto dan Video

Minggu, 11 Juni 2017

Bercinta dengan Aura Kasih yang Kesepian

Malam itu, Aura Kasih kembali tak bisa tidur. Ia gelisah tak menentu. Bergulingan di atas ranjang. Tubuhnya menggigil saking tak tahannya menahan gelora gairah seksnya yang menggebu-gebu. Malam ini ia tak mungkin menantikan kehadiran Tuan Farrel dalam pelukannya karena istrinya ada di rumah. Perasaannya semakin gundah kala membayangkan saat itu Tuan Farrel tengah menggauli istrinya. Ia bayangkan istrinya itu pasti akan tersengal-sengal menghadapi gempuran Tuan Farrel yang memiliki ’senjata’ dahsyat.

Bercinta dengan Aura Kasih yang Kesepian

Bayangan batang kontol Tuan Farrel yang besar dan panjang itu serta keperkasaannya semakin membuat Aura Kasih nelangsa menahan nafsu syahwatnya sendiri. Sebenarnya terpikir untuk memanggil Kang Ujang untuk menggantikannya namun ia tak berani selama majikannya ada di rumah. Kalau ketahuan hancur sudah akibatnya nasib mereka nantinya. Akhirnya Aura Kasih hanya bisa mengeluh sendiri di ranjang sampai tak terasa gairahnya terbawa tidur.

Dalam mimpinya Aura Kasih merasakan gerayangan lembut ke sekujur tubuhnya. Ia menggeliat penuh kenikmatan atas sentuhan jemari kekar milik Tuan Farrel. Menggerayang melucuti kancing baju tidurnya hingga terbuka lebar, mempertontonkan kedua buah dadanya yang mengkal padat berisi. Tanpa sadar Aura Kasih mengigau sambil membusungkan dadanya.

“Remas.. uugghh.. isep putingnya.. aduuhh enaknya..”

Kedua tangan Aura Kasih memegang kepala itu dan membenamkannya ke dadanya. Tubuhnya menggeliat mengikuti jilatan di kedua putingnya. Aura Kasih terengah-engah saking menikmati sedotan dan remasan di kedua payudaranya, sampai-sampai ia terbangun dari mimpinya.

Perlahan ia membuka kedua matanya sambil merasakan mimpinya masih terasa meski sudah terbangun. Setelah matanya terbuka, ia baru sadar bahwa ternyata ia tidak sedang mimpi. Ia menengok ke bawah dan ternyata ada seseorang tengah menggumuli bukit kembarnya dengan penuh nafsu. Ia mengira Tuan Farrel yang sedang mencumbuinya. Dalam hati ia bersorak kegirangan sekaligus heran atas keberanian majikannya ini meski sang istri ada di rumah. Apa tidak takut ketahuan. Tiba-tiba ia sendiri yang merasa ketakutan. Bagaimana kalau istrinya datang?


Aura Kasih langsung bangkit dan mendorong tubuh yang menindihnya dan hendak mengingatkan Tuan Farrel akan situasi yang tidak memungkinkan ini. Namun belum sempat ucapan keluar, ia melihat ternyata orang itu bukan Tuan Farrel?! Yang lebih mengejutkannya lagi ternyata orang itu tidak lain adalah Ryan, putra tunggal majikannya yang masih berumur 15 tahunan!?

“Den Ryan?!” pekiknya sambil menahan suaranya.

“Den ngapain di kamar Bibi?” tanyanya lagi kebingungan melihat wajah Ryan yang merah padam.

Mungkin karena birahi bercampur malu ketahuan kelakuan nakalnya.

“Bi.. ngghh.. anu.. ma-maafin Ryan..” katanya dengan suara memelas.

Kepalanya tertunduk tak berani menatap wajah Aura Kasih.

“Tapi.. barusan nga.. ngapain?” tanyanya lagi karena tak pernah menyangka anak majikannya berani berbuat seperti itu padanya.

“Ryan.. ngghh.. tadinya mau minta tolong Bibi bikinin minuman..” katanya menjelaskan.

“Tapi waktu liat Bibi lagi tidur sambil menggeliat-geliat. . ngghh.. Ryan nggak tahan..” katanya kemudian.

“Oohh.. Den Ryan.. itu nggak boleh. Nanti kalau ketahuan Papa Mama gimana?” Tanya Aura Kasih.

“Ryan tahu itu salah.. tapi.. ngghh..” jawab Ryan ragu-ragu.

“Tapi kenapa?” Tanya Aura Kasih penasaran

“Ryan pengen kayak Kang Ujang..” jawabnya kemudian.

Kepala Aura Kasih bagaikan disamber geledek mendengar ucapan Ryan. Berarti dia tahu perbuatannya dengan Satpam itu, kata hatinya panik. Wah bagaimana ini?

“Kenapa Den Ryan pengen itu?” tanyanya kemudian dengan lembut.

“Ryan sering ngebayangin Bibi.. juga.. ngghh.. anu..”

“Anu apa?” desak Aura Kasih makin penasaran.

“Ryan suka ngintip.. Bibi lagi mandi,” akunya sambil melirik ke arah pakaian tidur Aura Kasih yang sudah terbuka lebar.


Ryan melenguh panjang menyaksikan bukit kembar montok yang menggantung tegak di dada pengasuhnya itu. Aura Kasih dengan refleks merapikan bajunya untuk menutupi dadanya yang telanjang. Kurang ajar mata anak bau kencur ini, gerutu Aura Kasih dalam hati. Nggak jauh beda dengan Bapaknya.

“Boleh khan Bi?” kata Ryan kemudian.

“Boleh apa?” sentak Aura Kasih mulai sewot.

“Boleh itu.. ngghh.. anu.. kayak tadi..” pinta Ryan tanpa rasa bersalah seraya mendekati kembali Aura Kasih.

“Den Ryan jangan kurang ajar begitu sama perempuan.., ” katanya seraya mundur menjauhi anak itu. “Nggak boleh!”

“Kok Kang Ujang boleh? Nanti Ryan bilangin lho..” kata Ryan mengancam.

“Eh jangan! Nggak boleh bilang ke siapa-siapa. .” kata Aura Kasih panik.

“Kalau gitu boleh dong Ryan?”

Kurang ajar bener anak ini, berani-beraninya mengancam, makinya dalam hati. Tapi bagaimana kalau ia bilang-bilang sama orang lain. Oh Jangan. Jangan sampai! Aura Kasih berpikir keras bagaimana caranya agar anak ini dapat dikuasai agar tak cerita kepada yang lain. Aura Kasih lalu tersenyum kepada Ryan seraya meraih tangannya.

“Den Ryan mau pegang ini?” katanya kemudian sambil menaruh tangan Ryan ke atas buah dadanya.

“Iya.. ii-iiya..,” katanya sambil menyeringai gembira.

Ryan meremas kedua bukit kembar milik Aura Kasih dengan bebas dan sepuas-puasnya. “Gimana Den.. enak nggak?” Tanya Aura Kasih sambil melirik wajah anak itu.

“Tampan juga anak ini, walau masih ingusan tapi ia tetap seorang lelaki juga”, pikir Aura Kasih.

Bukankah tadi ia merindukan kehadiran seorang lelaki untuk memuaskan rasa dahaga yang demikian menggelegak? Mungkin saja anak ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tetapi dari pada tidak sama sekali?

Setelah berpikiran seperti itu, Aura Kasih menjadi penasaran. Ingin tahu bagaimana rasanya bercinta dengan anak di bawah umur. Tentunya masih polos, lugu dan perlu diajarkan. Mengingat ini hal Aura Kasih jadi terangsang. Keinginannya untuk bercinta semakin menggebu-gebu. Kalau saja lelaki ini adalah Tuan Farrel, tentunya sudah ia terkam sejak tadi dan menggumuli batang kont*lnya untuk memuaskan nafsunya yang sudah ke ubun-ubun. Tapi tunggu dulu. Ia masih anak-anak. Jangan sampai ia kaget dan malah akan membuatnya ketakutan.

Lalu ia biarkan Ryan meremas-remas buah dadanya sesuka hati. Dadanya sengaja dibusungkan agar anak ini dapat melihat dengan jelas keindahan buah dadanya yang paling dibanggakan. Ryan mencoba memilin-milin putingnya sambil melirik ke wajah Aura Kasih yang nampak meringis seperti menahan sesuatu.

“Sakit Bi?” tanyanya.

“Nggak Den. Terus aja. Jangan berhenti. Ya begitu.. terus sambil diremas.. uugghh..”

Ryan mengikuti semua perintah Aura Kasih. Ia menikmati sekali remasannya. Begitu kenyal, montok dan oohh asyik sekali! Pikir Ryan dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin mencium buah dada itu dan mengemot putingnya seperti ketika ia masih bayi.

Aura Kasih terperanjat akan perubahan ini sekaligus senang karena meski sedotan itu tidak semahir lelaki dewasa tapi cukup membuatnya terangsang hebat. Apalagi tangan Ryan satunya lagi sudah mulai berani mengelus-elus pahanya dan merambat naik di balik baju tidurnya. Perasaan Aura Kasih seraya melayang dengan cumbuan ini. Ia sudah tak sabar menunggu gerayangan tangan Ryan di balik roknya segera sampai ke pangkal pahanya. Tapi nampaknya tidak sampai-sampai. Akhirnya Aura Kasih mendorong tangan itu menyusup lebih dalam dan langsung menyentuh daerah paling sensitive. Aura Kasih memang tak pernah memakai pakaian dalam kalau sedang tidur. “Tidak bebas”, katanya.

Ryan terperanjat begitu jemarinya menyentuh daerah yang terasa begitu hangat dan lembab. Hampir saja ia menarik lagi tangannya kalau tidak ditahan oleh Aura Kasih.

“Nggak apa-apa.. pegang aja.. pelan-pelan. . ya.. terus.. begitu.. ya.. teruusshh.. uggh Den enaak!”

Ryan semangat mendengar erangan Aura Kasih yang begitu merangsang. Sambil terus mengemot puting susunya, jemarinya mulai berani mempermainkan bibir kemaluan Aura Kasih. Terasa hangat dan sedikit basah. Dicoba-cobanya menusuk celah di antara bibir itu. Terdengar Aura Kasih melenguh. Ryan meneruskan tusukannya. Cairan yang mulai rembes di daerah itu membuat jari Ryan mudah melesak ke dalam dan terus semakin dalam.

“Akhh.. Den masukin terusshh.. ya begitu. Oohh Den Ryan pinter!” desah Aura Kasih mulai meracau ucapannya saking hebatnya rangsangan ke sekujur tubuhnya.

Sambil terus menyuruh Ryan berbuat ini dan itu. Tangan Aura Kasih mulai menggerayang ke tubuh Ryan. Pertama-tama ia lucuti pakaian atasnya kemudian melepaskan ikat pinggangnnya dan langsung merogoh ke balik celana dalam anak itu.

“Mmmpphh..”, desah Aura Kasih begitu merasakan batang kont*l anak itu sudah keras seperti baja.

Ia melirik ke bawah dan melihat batang Ryan mengacung tegang sekali. Boleh juga anak ini. Meski tidak sebesar bapaknya, tapi cukup besar untuk ukuran anak seumurnya. Tangan Aura Kasih mengocok perlahan batang itu. Ryan melenguh keenakan.

“Oouhhgghh.. Bii.. uueeanaakkhh! ” pekik Ryan perlahan.

Aura Kasih tersenyum senang melihatnya. Anak ini semakin menggemaskan saja. Kepolosan dan keluguannya membuat Aura Kasih semakin terangsang dan tak tahan menghadapi emotan bibirnya di puting susunya dan gerakan jemarinya di dalam liang mem*knya. Rasanya ia tak kuat menahan desakan hebat dari dalam dirinya. Tubuhnya bergetar.. lalu.., Aura Kasih merasakan semburan hangat dari dalam dirinya berkali-kali. Ia sudah orgasme.

Heran juga. Tak seperti biasanya ia secepat itu mencapai puncak kenikmatan. Entah kenapa. Mungkin karena dari tadi ia sudah terlanjur bernafsu ditambah pengalaman baru dengan anak di bawah umur, telah membuatnya cepat orgasme.


Ryan terperangah menyaksikan ekspresi wajah Aura Kasih yang nampak begitu menikmatinya. Guncangan tubuhnya membuat Ryan menghentikan gerakannya. Ia terpesona melihatnya. Ia takut malah membuat Aura Kasih kesakitan.

“Bi? Bibi kenapa? Nggak apa-apa khan?” tanyanya demikian polos.

“Nggak sayang.. Bibi justru sedang menikmati perbuatan Den Ryan,” demikian kata Aura Kasih seraya menciumi wajah tampan anak itu.

Dengan penuh nafsu, bibir Ryan dikulum, dijilati sementara kedua tangannya menggerayang ke sekujur tubuh anak muda ini. Ryan senang melihat kegarangan Aura Kasih. Ia balas menyerang dengan meremas-remas kedua payudara pengasuhnya ini, lalu mempermainkan putingnya.

“Aduh Den.. enak sekali. Den Ryan pinter.. uugghh!” erang Aura Kasih kenikmatan.

Aura Kasih benar-benar menyukai anak ini. Ia ingin memberikan yang terbaik buat majikan mudanya ini. Ingin memberikan kenikmatan yang tak akan pernah ia lupakan. Ia yakin Ryan masih perjaka tulen. Aura Kasih semakin terangsang membayangkan nikmatnya semburan cairan mani perjaka. Lalu ia mendorong tubuh Ryan hingga telentang lurus di ranjang dan mulai menciuminya dari atas hingga bawah. Lidahnya menyapu-nyapu di sekitar kemaluan Ryan. Melumat batang yang sudah tegak bagai besi tiang pancang dan megulumnya dengan penuh nafsu.

Tubuh Ryan berguncang keras merasakan nikmatnya cumbuan yang begitu lihai. Apalagi saat lidah Aura Kasih mempermainkan biji pelernya, kemudian melata-lata ke sekujur batang kemaluannya. Ryan merasakan bagian bawah perutnya berkedut-kedut akibat jilatan itu. Bahkan saking enaknya, Ryan merasa tak sanggup lagi menahan desakan yang akan menyembur dari ujung moncong kemaluannya. Aura Kasih rupanya merasakan hal itu. Ia tak menginginkannya. Dengan cepat ia melepaskan kulumannya dan langsung memencet pangkal batang kemaluan Ryan sehingga tidak langsung menyembur.

“Akh Bi.. kenapa?” Tanya Ryan bingung karena barusan ia merasakan air maninya akan muncrat tapi tiba-tiba tidak jadi.

“Nggak apa-apa. Tenang saja, Den. Biar tambah enak,” jawabnya seraya naik ke atas tubuh Ryan.

Dengan posisi jongkok dan kedua kaki mengangkang, Aura Kasih mengarahkan batang kont*l Ryan persis ke arah liang memeknya. Perlahan-lahan tubuh Aura Kasih turun sambil memegang kontol Ryan yang sudah mulai masuk.

“Uugghh.. enak nggak Den?”

“Aduuhh.. Aura Kasih.. sedaapphh..! ” pekiknya.

Ryan merasakan batang kontolnya seperti disedot liang memek Aura Kasih. Terasa sekali kedutan-kedutannya. Ia lalu menggerakan pantatnya naik turun. Konotlnya bergerak ceapt keluar masuk liang nikmat itu. Aura Kasih tak mau kalah. Pantatnya bergoyang ke kanan-kiri mengimbangi tusukan kontol Ryan.

“Auugghh Deenn..uueennaakk! ” jerit Aura Kasih seperti kesetanan.

“Terus Den, jangan berhenti. Ya tusuk ke situ.. auughgg.. aakkhh..”

Ryan mempercepat gerakannya karena mulai merasakan air maninya akan muncrat.

“Bi.. saya mau keluaarr..” Jeritnya.

“Iya Den.. ayo.. keluarin aja. Bibi juga mau keluar.. ya terusshh.. oohh teruss..” katanya tersengal-sengal.

Ryan mencoba bertahan sekuat tenaga dan terus menggenjot liang memek Aura Kasih dengan tusukan bertubi-tubi sampai akhirnya kewalahan menghadapi goyangan pinggul wanita berpengalaman ini. Badannya sampai terangkat ke atas dan sambil memeluk tubuh Aura Kasih erat-erat, Ryan menyemburkan cairan kentalnya berkali-kali.

“Crot.. croott.. crott!”

“Aaakkhh..” Aura Kasih juga mengalami orgasme.

Sekujur tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan erat Ryan.

“Ooohh.. Deenn.. hebat sekali..”

Kedua insan yang tengah lupa daratan ini bergulingan di atas ranjang merasakan sisa-sisa akhir dari kenikmatan ini. Nafas mereka tersengal-sengal. Peluh membasahi seluruh tubuh mereka meski udara malam di luar cukup dingin. Nampak senyum Aura Kasih mengembang di bibirnya. Penuh dengan kepuasan. Ia melirik genit kepada Ryan.

“Gimana Den. Enak khan?”

“Iya Bi, enak sekali,” jawab Ryan seraya memeluk Aura Kasih.Tangannya mencolek nakal ke buah dada Aura Kasih yang menggelantung persis di depan mukanya.

“Ih Aden nakal,” katanya semakin genit.

Tangan Aura Kasih kembali merayap ke arah batang kontol Ryan yang sudah lemas. Mengelus-elus perlahan hingga batang itu mulai memperlihatkan kembali kehidupannya.

“Bibi isep lagi ya Den?”

Ryan hanya bisa mengangguk dan kembali merasakan hangatnya mulut Aura Kasih ketika mengulum kontolnya. Mereka kembali bercumbu tanpa mengenal waktu dan baru berhenti ketika terdengar kokok ayam bersahutan. Ryan meninggalkan kamar Aura Kasih dengan tubuh lunglai. Habis sudah tenaganya karena bercinta semalaman. Tapi nampak wajahnya berseri-seri karena malam itu ia sudah merasakan pengalaman yang luar biasa.

Beri tanggapan Anda pada kolom komentar di bawah ini
EmoticonEmoticon

Adblock Detected

Like this blog? Keep us running by whitelisting this blog in your ad blocker

This is how to whitelisting this blog in your ad blocker

Thank you

×